Batam –Indonesia kini mencatat tonggak penting dalam hilirisasi industri timah. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, meresmikan pabrik solder ramah lingkungan pertama di Tanah Air yang berlokasi di Tunas Industrial Estate, Batam, Kepulauan Riau.
Dalam peresmian tersebut, Todotua menekankan pentingnya hilirisasi sebagai wujud nyata dari investasi berkualitas. “Ini bukan sekadar menanam modal, tapi bagaimana investasi memberi nilai tambah. Dari 28 komoditas strategis yang sedang kami dorong untuk hilirisasi, timah menjadi salah satu yang paling potensial,” ujarnya di Batam, Kamis.
Pabrik ini dikelola oleh PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha dari Arsari Tambang. Berdiri di atas lahan seluas 6.500 meter persegi, fasilitas ini mampu memproduksi 2.000 ton solder bar per tahun. Dalam beberapa tahun ke depan, kapasitas produksi ditargetkan naik hingga 16.000 ton per tahun, termasuk produk solder wire, powder, dan paste. Dari ekspansi ini, perusahaan membidik pendapatan hingga Rp1 triliun.
Komisaris Utama Arsari Tambang, Hashim S. Djojohadikusumo, menjelaskan bahwa saat ini satu lini produksi telah menyerap sekitar 80 tenaga kerja. “Kapasitas produksi bisa terus berkembang sesuai kebutuhan pasar. Jika permintaan meningkat, kami akan tambah hingga empat lini,” jelasnya.
Tidak hanya fokus pada aspek produksi, pabrik ini juga menonjolkan komitmen terhadap keberlanjutan. Seluruh proses operasionalnya menggunakan energi baru terbarukan dari PLN yang telah tersertifikasi Renewable Energy Certificate (REC), menjadikan pabrik ini sebagai salah satu fasilitas industri bebas emisi di Indonesia.
Bangunan pabrik pun dirancang dengan prinsip efisiensi energi, memaksimalkan pencahayaan alami untuk mengurangi penggunaan listrik buatan. Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo, menyatakan bahwa pihaknya ingin menjadi contoh bahwa sektor pertambangan juga bisa menjadi pemimpin dalam praktik industri berkelanjutan. “Dengan memanfaatkan teknologi hijau dan memperkuat kemitraan strategis, kami ingin menunjukkan bahwa transformasi industri ke arah ramah lingkungan itu sangat mungkin dilakukan,” tuturnya.
Dari sisi pasokan bahan baku, STANIA telah menandatangani kesepakatan awal (HoA) dengan PT Freeport Indonesia untuk penyediaan timbal dan perak, dua unsur penting dalam pembuatan solder berkualitas tinggi. Selain itu, kerja sama dengan Volex, perusahaan global di bidang konektivitas, membuka peluang ekspor produk solder Indonesia ke pasar internasional.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyambut baik kehadiran pabrik tersebut. Ia menyatakan bahwa investasi seperti ini berkontribusi besar dalam membuka lapangan kerja dan menambah nilai ekonomi lokal. “Pemerintah Provinsi Kepri mendukung penuh investasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama di kawasan strategis seperti Batam,” ucapnya.
SUMBER : Antara